Berkacalah Jakarta



Kota sejuta mimpi katanya. Tapi masih saja dipenuhi oknum-oknum tak berpendidikan seperti ini. Tolol sekali. Nggak malu sama mobil-mobil mewah dan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, hm?

Kota sejuta mimpi. Mimpi dan hanya mimpi belaka.

31,000 Dapet Mushroom Swiss Burger King!!!!

Harga tol naik.

Terimakasih, setiap hari saya bayar Rp 31,000pulang-pergi untuk perjalanan rumah-kantor-rumah.

Rp 6,500 tol dalam kota
Rp 2000 tol Taman Mini
Rp 7000 tol TB Simatupang
---------------------------------------------+
Ro 15,500 x 2 (pulang pergi) = Rp 31,000 !

Belum lagi duit bensin.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan kendaraan umum. Hanya saja rute pulang bis yang biasa saya naiki berbeda dengan rute berangkatnya. Kalau saja si bis masuk dan keluar dari gerbang tol yang sama, semua akan lebih simple dan saya tidak harus menghabiskan sebegitu banyak uang. Ahhhh brengsek. Harus. Segera. Cari. Alternatif.

Praktek Kelas Vokal

Tak akan ada yang lebih mengganggu dari suara pengamen yang menyanyi tanpa nada di pagi hari. Dengan nada namun gagal, lebih tepatnya. Kelantangannya saat bersenandung hanya memperburuk suasana. 40 menit perjalanan akan sangat menyiksa kalau bukan karena teknologi Twitter yang sangat amat membantu melupakan keberadaan si pengamen dan membuat saya tertawa kecil-kecilan sembari membaca #sawityowit sisa sahur subuh tadi. :)

Ternyata selang beberapa lagu, si pengamen membawa bintang tamu, seorang teman wanitanya. Saat si bintang tamu menyanyikan bagian solo pertamanya, yang menurut saya lebih okee di banding 'tembang-tembang' sebelumnya, sayup-sayup saya dengar si pengamen bisik-bisik di telinga si wanita,

"suaranya di kencengin lagi.. ya, lebih lantang lagi nyanyinya. buka mulutnya.."

Guru vokal, mass?

Gaya Deh, Om!

Akhirnya kembali ke tanah air setelah dua minggu berkunjung ke tanah kelahiran dimana saya dibesarkan secara fisik dan mental. Ya, ya,ya, secara berat badan specifically. Perjalanan lancar dan saya pun tiba di CGK, JKT dengan selamat.

Begitu sampai di mobil dan ketemu papa, saya dicium dan dia menyodorkan...



"Welcome drink!" katanya.

Hahaha.

Ga lucu ya?

Anyway... HALO, Jakarta, i'm up for more of your stories! :)

Bawal Umihi Dito



Besok saya akan mengadakan perjalanan pertama saya (setelah hampir 2 minggu di sini) menuju sang Ibukota, Manila. Sendirian. Ah, sungguh sangat tidak excited untuk trip ini. Kalau bukan mengingat bayaran untuk titipan sepatu converse (yang ternyata jauh lebih murah di Jakarta) dan traktiran dari teman yang hendak membayar (baik sekali, bukan?) saya pasti lebih memilih bermalas-malasan di rumah.

Satu hal yang saya benci dari Manila, atau Filipina secara keseluruhan lebih tepatnya:

Bau pipis.

It is indeed fascinating bahwa jumlah peringatan "Bawal Umihi Dito" yang berarti "Dilarang Kencing Disini" (menurut saya) kurang lebih sama banyaknya dengan peringatan "Dilarang Merokok" di Jakarta.

-__-"

Filipina dan Celana Pendek

satu hal yang saya suka dari jalanan Filipina. meski tingkat ke alay-an cukup setara sama Indonesia, setidaknya saya bisa bebas jalan-jalan naik kendaraan umum dengan celana pendek. hotpants, to be specific. bukannya sengaja mau sok seksi tapi disini, layaknya Jakarta, panasnya suka nggak mikir. celana pendek selalu membuat hari saya lebih menyenangkan, adem.

setidaknya bisa jalan-jalan tanpa di godain alay. kalopun ada yang godain, yaudah lah yaaa... gak ngerti ini. hahaha

ternyata budaya mereka yang sangat meng-adore budaya Barat (baca: norak) ada positifnya juga ya. hehe

Selasa Pagi Dari Jalanan

PATAS AC 135 pukul 08.00.

Pria-pria tanpa barang bawaan di bis kota selalu membuat saya khawatir penuh curiga. Khususnya di jam sibuk seperti ini, ketika penduduk ibukota seharusnya dalam kepanikan serentak hendak tiba di tempat tujuan masing-masing tanpa embel-embel terlambat.

Pria ini mengenakan hoodie dan jeans, santai. Saya paranoid. Adakah pisau lipat dibalik jaketnya yang sedikit kebesaran?

Raut wajahnya tegas dan siap. Tanpa tujuan tapi sigap. Saya paranoid. Apakah dia si tukang hipnotis yang terkenal itu?

Tak mungkin seorang mahasiswa yang hendak pergi ke kampus. Seharusnya ada tas selempang atau ransel tersangkut di pundaknya.

Seorang karyawan juga tak mungkin. Pakaiannya terlalu santai.

Tukang bangunan, mungkin? Saya rasa tidak. Terlalu rapih dan bersih.

Ah, siapapun dia, kemanapun tujuannya, saya hanya ingin tiba di kantor dengan selamat. Tanpa kehilangan handphone untuk kelima kalinya.

FYI,
Tol TB Simatupang padat merayap.
Saya kebelet pipis.
Si pengamen lagi-lagi lupa stem gitar,
dan ya, this is just another Tuesday morning in Jakarta. No bombs.